CREW UPTD PUSKESMAS PANGKALAN

MOTTO UPTD PUSKESMAS PANGKALAN "ANDA SEHAT KAMI SEMANGAT"

CREW UPTD PUSKESMAS PANGKALAN

SELALU MENGEDEPANKAN NILAI "TERUBUK" (TANGGUNG JAWAB,EFEKTIF,RAJIN,ULET,BERDEDIKASI,USAHA,KOMITMEN)

PONED UPTD PUSKESMAS PANGKALAN-KARAWANG

LAYANAN PERSALINAN 24 JAM PUSKESMAS PANGKALAN

CREW UPTD PUSKESMAS PANGKALAN

SELALU SEMANGAT MELAYANI MASYARAKAT.

STOP!!!! HIV AIDS.......JAUHI VIRUSNYA, BUKAN ORANGNYA👌

APAKAH HIV ITU?????????


HIV (Human Immuno-deficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan menimbulkan AIDS.

APAKAH AIDS ITU????????

AIDS (Acquired Immuno Defiency Syndrome) merupakan kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh oleh virus HIV.

Kerusakan progresif pada sistem kekebalan tubuh menyebabkan pengidap HIV (ODHA) amat rentan dan mudah terjangkit macam-macam penyakit. 

HIV terdapat di dalam cairan tubuh seseorang yang telah terinfeksi seperti didalam darah, air mani atau cairan vagina.


BAGAIMANA CARA PENULARAN HIV/AIDS????????

  • Bersenggama/ hubungan seksual yang membuat darah, air mani (cairan sperma), atau cairan vagina dari orang HIV positif masuk ke aliran darah orang yang belum terinfeksi.
  • Memakai jarum suntik bekas dipakai orang lain, yang mengandung darah yang terinfeksi HIV/AIDS
  • Menerima transfusi darah yang terinfeksi HIV/AIDS
  • Ibu terinfeksi HIV/AIDS dapat menularkan penyakitnya kepada bayi saat dalam kandungan waktu melahirkan atau melalui air susu ibu.
JANGAN TAKUT!!!!! HIV TIDAK DITULARKAN MELALUI:



  • Hidup serumah dengan orang yang terinfeksi HIV
  • Menggunakan toilet umum dengan orang yang terinfeksi HIV
  • Berjabat tangan dengan orang yang terinfeksi HIV
  • Berenang dengan orang yang terinfeksi HIV
  • Berpelukan dengan orang yang terinfeksi HIV
  • Berciuman dengan orang yang terinfeksi HIV
  • Gigitan nyamuk / serangga



BAGAIMAN MENGETAHUI TANDA DAN GEJALA AIDS??????
Biasanya tidak ada gejala khusus pada orang-orang yang terinfeksi oleh HIV dalam waktu 5 sampai 10 tahun. Setelah itu AIDS mulai berkembang dan menunjukkan tanda-tanda atau gejala-gejala seperti berikut:
  • Kehilangan berat badan secara drastis
  • Diare yang berkelanjutan
  • Pembengkakan pada leher dan atau ketiak
  • Batuk terus menerus
Bila ada orang yang menunjukkan salah satu gejala diatas, bukan berarti orang tersebut telah terifeksi HIV. Untuk memastikannya, sebaiknya segera hubungi layanan kesehatan terdekat untukmendapatkan pemeriksaan tes darah.

BAGAIMANA PERKEMBANGAN DARI HIV MENJADI AIDS??????

  • PERIODE JENDELA (Periode dimana awal tertular dari penderita HIV sampai waktu 12 minggu/3 bulan dengan tanpa gejala dan hasil tes negatif)
  • PERIODE HIV + (masa ikubasi atau lamanya waktu yang dibutuhkan waktu seseorang untuk mengalami gejala setelah terpapar atau terinfeksi HIV )
  • PERIODE AIDS (Stadium akhir dan paling parah dari terinfeksi HIV. dimana sistem kekebalan tubuh sudah rusak parah atau jumlah CD4<200 mm3,  sehingga tubuh tidak mampu melawan penyakit oportunistik seperti: TBC, Diare, Kandidiasis, penyakit kulit yang berpotensi mengancam nyawa.

Proses dari HIV menjadi  AIDS bisa bervariasi, umumnya 5-10 tahun tanpa pengobatan. tetapi bisa lebih cepat atau lambat tergantung faktor individu, dan kini dapat sangat diperpanjang dengan pengobatan Antiretroviral (ARV/ART)

TES HIV UNTUK MENDAPATKAN LAYANAN SELANJUTNYA  AGAR AMAN DAN SEHAT....
  • Jika merasa pernah melakukan perilaku berisiko segera tes HIV
  • semua ibu hamail dianjurkan untuk tes HIV untuk menjamin kesehatan ibu dan anak
HIV tidak mudah menular !!!!JAUHI PENYAKITNYA JANGAN JAUHI ORANGNYA

STOP STIGMA DAN DISKRIMINASI!




GERAKAN REMAJA SEHAT, KEREN DAN CERDAS (GRES KECE) DI SEKOLAH DALAM UPAYA PENCEGAHAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI DI WILAYAH KECAMATAN PANGKALAN

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang dapat dialami oleh semua kelompok umur mulai dari balita sampai usia lanjut. Sesuai rekomendasi WHO tahun 2011, upaya penanggulangan anemia pada rematri dan WUS difokuskan pada kegiatan promosi dan pencegahan, yaitu peningkatan konsumsi makanan kaya zat besi, suplementasi TTD, serta peningkatan fortifikasi bahan pangan dengan zat besi dan asam folat. Organisasi profesi dan sektor swasta diharapkan dapat berkontribusi mendukung kegiatan komprehensif Promotif dan Preventif untuk menurunkan prevalensi anemia pada  rematri dan WUS.

Masalah kesehatan dan gizi di Indonesia pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi fokus perhatian karena tidak hanya berdampak pada angka kesakitan dan kematian pada ibu dan anak,  melainkan juga memberikan konsekuensi kualitas hidup individu yang bersifat permanen sampai usia dewasa. Timbulnya masalah gizi pada anak usia di bawah dua tahun erat kaitannya dengan persiapan kesehatan dan gizi seorang perempuan untuk menjadi calon ibu, termasuk rematri.

Rematri yang menderita anemia ketika menjadi ibu hamil berisiko melahirkan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) dan stunting. Anemia gizi besi menjadi salah satu penyebab utama anemia, diantaranya karena asupan makanan sumber zat besi yang kurang. Rematri pada masa pubertas sangat berisiko mengalami anemia gizi besi. Hal ini disebabkan banyaknya zat besi yang hilang selama menstruasi. Selain itu diperburuk oleh kurangnya asupan zat besi, dimana zat besi pada rematri sangat dibutuhkan tubuh untuk percepatan pertumbuhan dan perkembangan. Pada masa hamil, kebutuhan zat besi meningkat tiga kali lipat karena terjadi peningkatan jumlah sel darah merah ibu untuk memenuhi kebutuhan pembentukan plasenta dan pertumbuhan janin. Suplementasi zat besi berkaitan secara signifikan dengan penurunan risiko anemia [WHO, 2011; 2016].

PELATIHAN TIM PELAKSANA DALAM PENYIAPAN PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN BERBASIS PANGAN LOKAL BAGI IBU HAMIL DAN BALITA DALAM UPAYA PENCEGAHAN STUNTING

Pembangunan sumber daya manusia berkualitas merupakan amanat prioritas pembangunan nasional. Status gizi yang baik merupakan salah satu faktor penentu untuk keberhasilan pembangunan sumber daya manusia. Ibu hamil dan Balita merupakan salah satu kelompok rawan gizi yang perlu mendapat perhatian khusus, karena dampak jangka panjang yang ditimbulkan apabila mengalami kekurangan gizi. Selain itu, usia balita merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat dan rawan terhadap kekurangan gizi. Begitu pula dengan Ibu hamil, apabila Ibu hamil mengalami kekurangan gizi akan mempengaruhi proses tumbuh kembang janin yang berisiko untuk melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) dan atau
stunting.

Masalah gizi Balita di Indonesia masih cukup tinggi. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022 prevalensi balita wasting sebesar 7,7% dan Balita stunting 21,6%. Sedangkan data Riskesdas (2018) menunjukkan prevalensi risiko KEK pada Wanita Usia Subur (WUS) sebesar 14,1%, sedangkan pada Ibu hamil sebesar 17.3%. Selain itu prevalensi anemia pada ibu hamil sebesar 48,9%. Masalah gizi disebabkan oleh berbagai faktor. Kekurangan asupan makanan bergizi dan atau seringnya terinfeksi penyakit menjadi salah satu penyebab langsung terjadinya masalah gizi. Pola asuh yang kurang tepat, kurangnya pengetahuan, sulitnya akses ke pelayanan kesehatan, kondisi sosial ekonomi juga berpengaruh secara tidak langsung terhadap akses makanan bergizi dan layanan kesehatan.

Berdasarkan data Survei Diet Total (SDT) tahun 2014, masih terdapat 48,9% Balita memiliki asupan energi yang kurang dibanding Angka Kecukupan Energi yang dianjurkan (70%- <100% AKE) dan 6,8% Balita memiliki asupan energi yang sangat kurang (<70% AKE). Selain itu, 23,6% balita memiliki asupan protein yang kurang dibandingkan Angka Kecukupan Protein yang dianjurkan (<80% AKP). Selain kurangnya asupan energi dan protein, jenis makanan yang diberikan pada Balita juga kurang beragam. Berdasarkan SSGI 2021, proporsi makan beragam pada baduta sebesar 52,5%. Infeksi pada balita juga cukup tinggi, yaitu proporsi Balita mengalami diare sebesar 9,8% dan ISPA sebesar 24,1% (SSGI 2021). Sementara itu, lebih dari separuh Ibu hamil memiliki asupan energi sangat kurang (<70% angka kecukupan energi) dan sekitar separuh Ibu hamil juga mengalami kekurangan asupan protein (<80% angka kecukupan yang dianjurkan). Upaya peningkatan status kesehatan dan gizi pada Ibu hamil juga dilakukan melalui Antenatal Care Terpadu (ANC Terpadu). Berdasarkan Riskesdas 2013 dan 2018, cakupan pelayanan ANC Ibu hamil (K4) cenderung meningkat yaitu dari 70% menjadi 74,1%. Untuk mencapai target 100% pada tahun 2024, cakupan pelayanan ANC masih perlu ditingkatkan.

Maka dari itu, kami UPTD Puskesmas Pangkalan Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang mengadakan pelatihan tim pelaksana pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita yang mempunyai permasalahan gizi agar segera tertangani dan tidak berdampak pada resiko terjadinya stunting dikemudian hari. kami bersama lintas sektor (Muspika, Pemerintahan Desa dan seluruh instansi/UPTD dan Kader Posyandu) se-kecamatan pangkalan berkomitmen untuk bersama-sama melakukan yang terbaik untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat kecamatan pangkalan dalam upaya penanganan dan pencegahan stunting.

PEMBINAAN KESEHATAN PESANTREN TAHFIZH DARUL QUR'AN DESA CINTAASIH

Pasal 28H ayat 1 Undang-Undang Dasar Negara 
Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan 
bahwa setiap orang berhak untuk memperoleh 
pelayanan kesehatan. Hal ini dapat diartikan 
bahwa kesehatan merupakan salah satu hak asasi 
yang fundamental bagi setiap penduduk. Selain 
sebagai hak asasi, kesehatan juga merupakan 
investasi. Untuk itu, mengingat kesehatan 
merupakan tanggung jawab bersama, maka perlu 
diperjuangkan oleh berbagai pihak bukan hanya 
jajaran kesehatan semata. Hal ini sejalan dengan 
Pasal 9 ayat 1 Undang-Undang Nomor 36 tahun 
2009 tentang kesehatan yang menyatakan bahwa 
setiap orang berkewajiban ikut mewujudkan, 
mempertahankan, dan meningkatkan derajat 
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.Kesehatan merupakan salah satu di antara 
tiga faktor utama yang mempengaruhi Indeks 
Pembangunan Manusia (IPM) atau Human 
Development Index (HDI), selain pendidikan 
dan pendapatan (tingkat daya beli masyarakat). 
POS KESEHATAN PONDOK PESANTREN 
(POSKESTREN)
1. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan 
keagamaan Islam yang berbasis masyarakat 
baik sebagai satuan pendidikan dan/atau 
sebagai wadah penyelenggara pendidikan.
2. Unsur-unsur pondok pesantren terdiri atas 
kiai, ustad atau sebutan lain yang sejenis, 
santri, pondok atau asrama, dan masjid atau 
musala serta penyelenggaraan pengajian kitab 
kuning.
3. Pos Kesehatan Pesantren, yang selanjutnya 
disebut Poskestren merupakan salah satu 
wujud UKBM di lingkungan pondok pesantren, 
dengan prinsip dari, oleh dan warga pondok 
pesantren, yang mengutamakan pelayanan 
promotif (peningkatan) dan preventif 
(pencegahan) tanpa mengabaikan aspek kuratif 
(pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan 
kesehatan), dengan binaan Puskesmas 
setempat.
4. Warga pondok pesantren adalah Kiai atau 
sebutan lain Pimpinan/Pengasuh, santri, 
ustad/ustazah, pekerja/karyawan serta 
pengelola.
5. UKBM merupakan salah satu wujud 
pemberdayaan masyarakat, yang tumbuh dari masyarakat, dikelola oleh masyarakat dan 
untuk kepentingan masyarakat dalam upaya 
menanggulangi permasalahan kesehatan yang 
dihadapi dengan memanfaatkan potensi yang 
dimiliki masyarakat setempat.
B. Tujuan
Tujuan Umum:
Mewujudkan kemandirian warga pondok pesantren 
dan masyarakat sekitar dalam berperilaku Hidup 
Bersih dan Sehat (PHBS).
Tujuan Khusus:
1. meningkatkan pengetahuan warga pondok 
pesantren dan masyarakat sekitarnya tentang 
kesehatan;
2. meningkatkan sikap dan Perilaku Hidup Bersih 
dan Sehat bagi warga pondok pesantren dan 
masyarakat sekitarnya; 
3. meningkatkan peran serta aktif warga pondok 
pesantren dan warga masyarakat sekitarnya 
dalam penyelenggaraan upaya kesehatan; dan
4. memenuhi layanan kesehatan dasar bagi 
warga pondok pesantren dan masyarakat 

CEGAH STUNTING DARI SEKARANG


Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang ditandai dengan tubuh pendek. Penderita stunting umumnya rentan terhadap penyakit, memiliki tingkat kecerdasan di bawah normal serta produktivitas rendah. Tingginya prevalensi stunting dalam jangka panjang akan berdampak pada kerugian ekonomi bagi Indonesia.
Prevalensi stunting Indonesia berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) 2016 mencapai 27,5 persen. Menurut WHO, masalah kesehatan masyarakat dapat dianggap kronis bila prevalensi stunting lebih dari 20 persen. Artinya, secara nasional masalah stunting di Indonesia tergolong kronis, terlebih lagi di 14 provinsi yang prevalensinya melebihi angka nasional.
Penyebab dari stunting adalah rendahnya asupan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan, yakni sejak janin hingga bayi umur dua tahun. Selain itu, buruknya fasilitas sanitasi, minimnya akses air bersih, dan kurangnya kebersihan lingkungan juga menjadi penyebab stunting. Kondisi kebersihan yang kurang terjaga membuat tubuh harus secara ekstra melawan sumber penyakit sehingga menghambat penyerapan gizi.
Stunting dapat dicegah, antara lain melalui pemenuhan kebutuhan gizi bagi ibu hamil, pemberian ASI eksklusif selama enam bulan kemudian dilanjutkan dengan MPASI. Orang tua juga diharapkan membawa balitanya secara rutin ke Posyandu, memenuhi kebutuhan air bersih, meningkatkan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan.(sumber:katadata.co.id)

Refreshing Kader Kesehatan/Posyandu Tahun 2019 UPTD Puskesmas Pangkalan



Pada hari Rabu, 18 SEPTEMBER 2019 Puskesmas Pangkalan  menyelenggarakan Kegiatan Refreshing Kader kesehatan yang diikuti oleh 74 kader di delapan desa, kecamatan pangkalan diwilayah kerja Puskesmas Pangkalan.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas, kemampuan dan pemahaman kader pos,1ĺ
Pak,yandu balita dalam meningkatkan derajat k kesehatan.

Acara tersebut di buka oleh kepala  Puskesmas Pangkalan Ibu Hj. Wiwin Widaningsih,SKM dengan memberikan sambutan tentang pentingnya peran kader kesehatan dalam meningkatakan derajat kesehatan.
Kemudian acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh para Narasumber diantaranya oleh Dokter H. Ahmad Roshikon, MM dengan tema OJT imunisasi kader posyandu,kemudian pemaparan materi tentang media dan teknik penyuluhan dalam pelaksanaan PHBS Rumah Tangga yang disampaikan oleh penanggungjawab program Promkes Bpk Mardani, A.Md.Kep dilanjutkan oleh Nara sumber Bidan Hj.Enur Nurpita, SST selaku penanggungjawab Program Gizi Masyarakat  yang menyampaikan materi tentang pemberian dan pembuatan makan pendamping ASI(MPASI), dan dilanjutkan dengan demonstrasi penyuluhan dan pembuatan makanan pendamping ASI(MPASI) yang dilaksanakan oleh kader kesehatan/posyandu.
Dalam pelaksanaannya para peserta sangat antusias dalam kegiatan tersebut, hal ini dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan-pertanyaan dari kader.
Dengan kegiatan ini diharapkan para kader posyandu dapat memahami peran dan fungsinya sebagai kader di posyandu, selain itu kader-kader posyandu dapat melakukan penyuluhan secara mandiri dan bisa lebih cepat tanggap atau responsif terhadap masalah-masalah kesehatan yang ada di lingkungannya serta tertib administrasi dan dapat meningkatkan strata posyandunya.











GEBYAR GERMAS











GEBYAR GERMAS, CEGAH STUNTING DAN DEKLARASI ODF(STOP BAB SEMBARANGAN)
UPTD PUSKESMAS PANGKALAN KAB. KARAWANG

kamis, 29 agustus 2019





GERMAS - Mengatasi masalah kesehatan masih menjadi sebuah tantangan serius di Indonesia. Kini setidaknya masih ada triple burden atau tiga masalah kesehatan penting terkait pemberantasan penyakit infeksi, bertambahnya kasus penyakit tidak menular dan kemunculan kembali jenis penyakit yang seharusnya telah berhasil diatasi.
Perubahan pola hidup masyarakat yang makin modern menjadi salah satu dasar GERMAS atau Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dicanangkan oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Penyakit menular seperti diare, tuberkulosa hingga demam berdarah dahulu menjadi kasus kesehatan yang banyak ditemui; kini telah terjadi perubahan yang ditandai pada banyaknya kasus penyakit tidak menular seperti diabetes, kanker dan jantung koroner.
GERMAS adalah sebuah gerakan yang bertujuan untuk memasyarakatkan budaya hidup sehat serta meninggalkan kebiasaan dan perilaku masyarakat yang kurang sehat. Aksi GERMAS ini juga diikuti dengan memasyarakatkan perilaku hidup bersih sehat dan dukungan untuk program infrastruktur dengan basis masyarakat.
Program ini memiliki beberapa fokus seperti membangun akses untuk memenuhi kebutuhan air minum, instalasi kesehatan masyarakat serta pembangunan pemukiman yang layak huni. Ketiganya merupakan infrastruktur dasar yang menjadi pondasi dari gerakan masyarakat hidup sehat.


Gambar Keuntungan GERMAS

7 Langkah Gerakan Masyarakat Hidup Sehat


  1. Melakukan Aktivitas Fisik
  2. Makan Buah dan Sayur
  3. Tidak Merokok
  4. Tidak Mengkonsumsi Minuman Beralkohol
  5. Melakukan Cek Kesehatan Berkala
  6. Menjaga Kebersihan Lingkungan
  7. Menggunakan Jamban

Secara umum, tujuan GERMAS adalah menjalani hidup yang lebih sehat. Gaya hidup sehat akan memberi banyak manfaat, mulai dari peningkatan kualitas kesehatan hingga peningkatan produktivitas seseorang. Hal penting lain yang tidak boleh dilupakan dari gaya hidup sehat adalah lingkungan yang bersih dan sehat serta berkurangnya resiko membuang lebih banyak uang untuk biaya berobat ketika sakit.(https://promkes.kemkes.go.id)